Menyapih

IMG_20180120_040126_1516395838627

terimakasih…

Iklan

Familia

Secacat apapun ia
Anggaplah ia pangeranmu
Sekotor apapun halamannya
Anggaplah ia tamanmu
Ia hanya satu di dunia ini
Tak ada lagi kemanapun kau mencari
Padanyalah kau bebas bermain
Dan terlelap setelah letih bermain
Sebusuk apapun aroma yang kau bawa
dari perjalanan panjangmu
Lengan-lengan kokoh nan lembut
akan selalu menyambutmu
Membawamu kedalam dada bidangnya
Ia tak gusar meski keringatmu
mengotori gaun anggunnya
Malah dekapannya makin erat
; serasa ingin mematahkan
tulang-tulang rindumu

Puisi Puasa

Jpeg

Malam adalah lautan..
tempat dimana segala rahasia berganti warna…

Gugusan bintang, butiran hujan, pasir dan dedaunan//
melihatmu menari seperti menulis diatas air, gagal dan gagal lagi// tarikanlah tarian mimpi, hingga menyusup ke kampung kampung// dimana pelangi merangkul bunga, sawah, dan ladang tapi itu dulu//di kaki bukit tempat kita mencakar bumi menyuap anak//anjing anjing berlari ditingkahi senyum simpul kupu kupu senja//dengkur halusmu bangunkan aku//ditengah malam aku gigil menghalau takdir// tiba-tiba saja aku diserang hantu bernama rindu//panah panah tanya dan kembang api yang redup di pelukan balerina//bisa saja aku mengambil sedikit es didalam hatimu.. untuk kemudian mengalirkannya lewat matamu, tapi untuk apa?
; masa lalu adalah bara di masa depan// ranting ranting es di fikiranmu luruh bersama kepingan bulan// di kaki bukit, tempat kita mencakar bumi menyuap anak// anjing anjing yang berlarian terkapar mati dihujani peluru nyasar// kupu kupu terkulai mati diatas pohon pohon tumbang// kunang kunang berdansa lirih menyayat fikir, ini bukan takdir!ini bukan takdir! di kaki bukit, kita melihat para badut mencakar mukanya sendiri…

(Review) Efek Rumah Kaca – Sinestesia

screenshot_2016-10-31-13-06-47_1

Sementara itu musik masih melantun”

Selama berabad-abad, manusia sudah mencari-cari hubungan antara musik dan warna. Newton memandang bahwa spektrum memiliki tujuh warna berbeda, terkait dengan cara sederhana tetapi tidak diketahui, dengan tujuh nada dalam skala diatonik. Dalam “The Oxford Companion to Music” juga terdapat delapan belas kolom terisi padat mengenai “warna dan musik”. Salah satu penyampaian sistematis mengenai sinestesia pernah ditulis Francis Galton dalam buku klasiknya terbitan tahun 1883, berisi penyelidikan atas kemampuan manusia dan perkembangannya. Ada anggapan sebagian besar dari kita, pengasosiasian warna dan musik masih merupakan metafora.

Oliver Sack juga menuliskan bahwa insiden sinestesia diperkirakan sekitar satu dalam setiap dua ribu, karena sebagian besar orang yang menderitanya tidak menganggapnya sebagai suatu “kondisi”. Tetapi satu-satunya penyebab penting sinestesia yang diperoleh secara permanen adalah kebutaan. Hilangnya kemampuan melihat, terutama di awal kehidupan, anehnya dapat menyebabkan peningkatan gambaran visual dan segala macam keterkaitan antar-penginderaan dan sinestesia.

“Sementara itu musik terus melantun”

Setelah satu bulan tertunda saya coba tulis kembali kelanjutan kisah materi-materi yang rumit ini. Ada kartu pos berwarna yang berhimpitan dalam album tersebut, terutama juga pada judul lagu yang mungkin memberi petunjuk tentang cara-cara yang secara mendasar berbeda, di mana otak memperlakukan musik dan pandangan. Warna tadi memiliki emosi dan ciri khasnya tersendiri dalam makna yang kita sepakati secara general dan personal. 

MERAH/ Ilmu politik. Mulai melantun dengan suara yang tinggi mencolok dengan irama yang terang. Adalah lagu pengantar berisikan lirik gusar dan tajam. Komposisi musik diformulasikan begitu mengkhawatirkan dan getir terdengar. Seluruh instrumen memainkan perannya dengan berani terutama bunyi yang dihasilkan cello. Pusat perhatian lebih tertuju pada apa yang di nyanyikan sang vokalis dan hal lain yang menarik dari lagu ini terletak pada, kalau kita memasang telinga baik-baik dalam mendengarkan, akan tertangkap adanya “manajemen” bunyi yang baik.

BIRU/Pasar bisa diciptakan. ERK memiliki pesona lirik dan musik. Keduanya saling menopang, singkron serta dinamis. Sangat jelas pada trak kedua ini, memikat dan semangat. Dengan sangat cermat mengemas musik utuh sebagai sarana pendidikan membentuk kepribadian. Kepribadian yang bergelora selalu berkarya. Begitu saja langsung teringat dengan judul Sumatran Fiesta karya Ben M. Pasaribu 

Pada urutan ketiga gradasi warna berpendar pilu yaitu JINGGA/Hilang. Setiap instrumen dengan jelas selaras. Lagunya mengalir, melantun sendiri tanpa tergesa-gesa. Sesuai tempo dan terlukis harapan di tiap tetesan air mata keluarga korban yang ditinggalkan. Dan akhirnya lagunya selesai, menghilang seperti gelembung yang meletus.

Warna yang dipilih selanjutnya adalah HIJAU/Keracunan Omong Kosong. Warna yang memiliki kesan jernih dan kemasuk-akalan serta kedamaian. Dari enam lagu yang terdapat dalam album ini, pada tahapan ini sedikit memiliki warna yang berbeda. Artinya komposisi musik yang ditawarkan ceria dan ringan, layaknya seperti musik milik Bizet.

Oliver Sack pernah menulis bahwa musik tidak memiliki kekuatan untuk mewakili apapun secara khusus atau eksternal, namun memiliki kekuatan unik untuk mengekspresikan kondisi internal atau perasaan. Musik mampu menembus hati secara langsung; tidak memerlukan perantara, silahkan simak lagu PUTIH/Tiada.

Sebagai lagu penutup adalah KUNING/Keberagamaan. Diawali petikan gitar dan flute begitu tenang terjalin dan terurai. Kuning bagaikan corak kerlipan cahaya lilin di malam hari sebagai penerang akan hal-hal yang bertentangan dalam kehidupan manusia, “ karena cinta bersemayam dalam jiwa”.

Enam trak yang dikerjakan dalam periode tahun 2009-2015 ini secara keseluruhan memiliki karakter yang berbeda dengan album ERK sebelumnya, terutama jelas terlihat dari durasi yang lebih panjang, paduan komposisi musik dan lirik brilian serta instrumen yang digunakan lebih variatif.
Ini merupakan salah satu Album terbaik yang menjadi pembuka awal tahun 2016 dan tentunya sekaligus menjadi penanda “istirahat” ERK dalam kurun waktu yang cukup panjang.

Best regards!

Efek Rumah Kaca-Sinestesia
Song list:
MERAH/ Ilmu politik.
BIRU/Pasar bisa diciptakan.
JINGGA/Hilang.
HIJAU/Keracunan Omong Kosong.
PUTIH/Tiada.
KUNING/Keberagamaan.

Pekanbaru,  februari – 20 Maret 2016.

Under The Big Bright Yellow Sun – Quintessential Turmoil// Musik Melakukan Segalanya

 

images (26)

Image from web Monsterstress Record

Ketika kita mendengarkan musik, sebagaimana seperti yang dituliskan Daniel Levitin, “ Kita sebenarnya mempersepsikan atribut-atribut ganda (dimensi).  Diantaranya dia mencantumkan nada, tinggi nada, warna nada, kekerasan tempo, irama, dan kontur (bentuk keseluruhan, naik turunnya melodi). Mendengarkan musik yang terdiri dari beberapa unsur yang ditulis diatas merupakan proses mendengarkan, sedang mendengarkan dan telah mendengarkan semua terangkum menjadi satu.

Album penuh milik UTBBYS yang bertajuk “Quintessential Turmoil” yang rilis pada tahun 2014, kini saya dengarkan ketika menulis tulisan ini, telah selesai saya dengarkan dan barangkali akan tetap didengarkan. Saya mulai memutar album ini secara acak, tak ada maksud tertentu. Semua lagu diputar bertahap hingga selesai, tanggapan sederhana di rumuskan; ini musik yang beda–sungguhan. Seperti sebuah semangat perlawanan meskipun tidak dibubuhi lirik, materi album ini bisa saja dimaknai seperti menceritakan sukacita dan potongan-potongan harapan yang belum selesai ditunaikan.

Ini merupakan album kedua UTBBYS band post rock asal kota kembang, berisikan sepuluh track penuh instrumental. Album pertama berjudul “Painting Of Life” yang rilis tahun 2012 telah habis terjual. Bermukim di Bandung, tetap konsisten dengan personil yang terdiri dari Komeng (Gitar), Eza (Gitar), Ranyay(Gitar), Didi (Bas), dan Wee (Dram).

Dalam stereo panca indera hidup manusia yang memiliki dua mata dan telinga, membaca dan mendengarkan hiruk pikuk kata-kata tentunya memiliki titik jenuh. Album ini menawarkan sepuluh track musik tanpa lirik menjamah sudut imajinasi sehingga tafsiran akan makna apa yang ingin disampaikan UTBBYS sepertinya sah-sah saja jika kita mempunyai bahkan menambahkan kesimpulan personal.

Musik melakukan segalanya. menghidupkan emosi dan ingatan.

Begitulah album ini saya simpulkan.

Komposisi tiga gitar yang merupakan ciri khas UTBBYS begitu dinamis saling bertaut nada pada sepuluh track pada album ini. Drum dan bass mampu menjaga kestabilan harmonisasi musik dan mengartikulasikan tiap-tiap rangkaian melodi.

Secara keseluruhan materi album ini memaparkan  musikalitas  segar dan memberikan ruang gerak berulang-ulang mulai dari berjalan hingga berdansa. Formula musiknya memungkinkan memberikan kita kemampuan untuk mengorganisir, untuk mengikuti rangkaian yang rumit atau menyimpan sejumlah besar informasi  dalam susunan irama dan melodi setiap lagu.

Under The Big Bright Yellow Sun – Quintessential Turmoil

Label : Monsterstress Record

Track list :
– Fur Elizabeth
– A Life In a Day
– Good Morning Shunshine
– Wasting Time
– A Slow Journey To The East
– Ironic
– Three Days After Death
– Did You Remember The Day We Were         Child?
– Shocked After Stress
– Prahara

Penulis oleh: Rachmat Harahap
[Berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Pekanbaru, Riau. –

ORANGE THEORY – ALIVE (EP)

IMG_20170812_025209_HDR_1502481236789

Sebuah EP dari seorang kawan yaitu bg Joel Kinamad, saat itu kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil yang baru beroperasi di salah satu sudut kota ini, Pekanbaru.

Orange Theory sebuah nama yang menarik, karena jeruk tentunya mengandung vitamin yang bermanfaat, tetapi rasanya? Ada yang manis dan juga asam oleh karena itu mari kita cicip racikan album ini.

Terbentuk pada tahun 2011 di salah satu kampus Seni di Jakarta, Orange Theory adalah Duo Alternative Rock yang beranggotakan Cyca Leonita (Bass/Voc), Henry The Koi (Gitar/Voc), dan mereka juga di bantu seorang drummer, yaitu Ivand Liaran untuk merampungkan empat track pada EP bertajuk ALIVE pada tahun 2017 ini. Orange Theory telah merilis video klip musik untuk single pertama mereka yang berjudul “We came Alive” Arahan dari Rifqi Pramesworo Pada tahun 2016 yang lalu.

“We Came Alive” menjadi pembuka EP ini, part drum pada awal lagu ini begitu memikat, mengalir ringan di padu dengan gitar dan bass yang dipetik khas, langsung menyambut teriakan suara sang vokalis, We Came Alive…We Came Alive…

Satu track pada awal sudah mulai menyajikan bulir jeruk yang menggoda, dan masuk pada track kedua berjudul “Dark Clouds” dan selanjutnya lagu ketiga berjudul “Dear Cursey”, track kedua merupakan lagu yang paling berani, ada sedikit rasa kecut dan getir tapi tetap menyimpan rasa manis pada part-part tertentu, layaknya minuman jeruk kasturi dingin yang tersaji segar pada siang hari di pinggiran kota ini.

IMG_20170812_025301_HDR_1502481269843

 

Hang On Strongman, You’re Gonna Die adalah single kedua yang mereka garap, sekaligus telah di rilis video klipnya pada tahun 2017 ini di bantu oleh Asaf Kharisma. Lagu ini dikonsep dengan nuansa yang lebih ringan, namun karakter vokal selalu punya ciri khas tersendiri yang membuat corak di setiap lagu dalam EP ini menjadi lebih ekspresif. Empat track yang memiliki varian rasa dan full album duo musisi ini tentunya nanti akan meramaikan kancah musik di tanah air.

Best Regards.

Orange Theory –  ALIVE

  1. We came alive
  2. Dark Clouds
  3. Dear Cursey
  4. Hang On Strongman, You’re Gonna Die
  • Facebook : ORANGE THEORY
  • Instagram: ORANGETHEORYMUSIC
  • Youtube : ORANGETHEORYMUSIC